"Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan." Thomas A. Edison,

"Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka." Alexander Graham Bell,
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan

24 Juli 2008

10 Karakter Unik Konsumen Indonesia


Konsumen Indonesia ternyata mempunyai beberapa ciri khas dan karakter unik yang perlu dicermati dibandingkan dengan konsumen negara di Asia lainnya atau Amerika dan Eropa. Karakter ini perlu dipelajari untuk menyusun strategi pemasaran yang jitu agar mampu mendongkrak penjualan. Dengan mengerti perilaku konsumen adalah bagian strategi pemasaran yang efektif.

Chairman Frontier Consulting Group Handi Irawan mengelompokkan karakter konsumen Indonesia menjadi 10 jenis.

Karakter pertama, konsumen Indonesia mempunyai memori jangka pendek. Sebagian besar konsumen ingin memperoleh hasil atau keuntungan yang singkat dari hasil pembelian produk atau jasa.

Tengok saja, mana yang lebih banyak pasarnya antara produk penambah tenaga dan produk vitamin untuk kesehatan. Bandingkan juga antara kredit sepeda motor dan tabungan pendidikan. Jelas, produk suplemen penambah tenaga lebih menguasai pasar, begitu juga kredit sepeda motor yang lebih mendominasi.

"Karena itu, berikan pemahaman kepada konsumen mengenai keuntungan jangka pendek atau cepat. Strateginya, gunakan hadiah langsung atau promo lainnya yang mudah dipahami konsumen," ujar Handi pada seminar bertajuk 10 Karakter Unik Konsumen Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.

Kedua, umumnya konsumen Indonesia tidak memiliki perencanaan. Karakter ini berhubungan dengan karakter pertama. Konsumen juga kurang menghargai waktu dan memiliki gaya hidup santai. Akibatnya, proses pembelian kurang efisien.

Namun, hal ini bisa dimanfaatkan dengan menerapkan strategi produk atau layanan yang mempunyai fleksibilitas tinggi. Artinya, produk itu bisa digunakan dalam berbagai situasi multifungsi. Agar cepat tertuju kepada konsumen, gunakan display mencolok.

Ketiga, konsumen Indonesia suka berkumpul, baik dengan kolega, relasi kerja, dengan keluarga, maupun dengan teman satu komunitas. Karakter ini merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia sejak lama sehingga akan bertahan hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Dalam kondisi ini, biasanya teman dan kolega bisa memengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Cara yang efektif, tingkatkan komunikasi terhadap kelompok atau grup tempat konsumen berkumpul. Bentuklah opini yang dapat memengaruhi kelompok itu.

"Konsumen akan membeli atau menggunakan produk jasa jika teman-teman juga membeli. Jadi kelompok dan komunitas itu harus diedukasi," kata Handi.

Karakter keempat adalah gaptek alias gagap teknologi. Konsumen Indonesia lebih doyan menggunakan teknologi yang sederhana dan tidak rumit. Contohnya, perkembangan teknologi informasi dunia mendorong munculnya telepon seluler dengan beragam fasilitas mulai dari GPRS, 3G hingga teleconference.

Namun apa yang terjadi? Masyarakat Indonesia tetap menggandrungi telepon dan pesan singkat (SMS) sebagai cara komunikasi efektif. Pasar yang menggunakan teknologi simpel lebih gemuk dibandingkan dengan pasar yang selalu mengadopsi teknologi tinggi.

Cara pemasarannya, buatlah teknologi untuk tujuan fun atau hiburan, serta teknologi yang mudah digunakan dan aman. Dalam kondisi ini, menjadi pengikut kesuksesan produk lain bisa jadi pertimbangan dalam menyusun strategi.

Kelima, konsumen Indonesia lebih mengutamakan konteks, bukan konten. Konsumen Indonesia bukan masyarakat yang menyukai informasi bersifat analisis data atau perdebatan, melainkan hiburan.

Tengok saja acara talk show atau perdebatan konflik politik dibandingkan dengan talk show bertema hiburan seperti Empat Mata-nya Tukul. Peringkat yang paling tinggi tentu acara yang kedua.

Masyarakat tidak mau menggunakan banyak otak saat menonton atau baca koran. Masyarakat masih menjadikan televisi sebagai media hiburan, dan bukan informasi.

Jadi, strategi pemasaran untuk konsumen ini adalah, membuat produk dengan kemasan dan desain yang menarik atau display yang mencolok, berikan pesan-pesan yang langsung dipahami konsumen.

Fanatik asing

Karakter keenam, fanatik terhadap produk buatan luar negeri. Rasa nasionalisme bangsa Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan bangsa Korsel atau Jerman yang menghargai produk sendiri. Masyarakat kurang menghargai produk asli buatan lokal karena kualitasnya sulit bersaing dengan produk asing.

Ada beberapa cara untuk mengakali konsumen dengan karakter seperti ini. Pertama,buat produk dengan simbol-simbol asing seperti membubuhkan tulisan made in dalam label produk. "Namun jangan bohongi dan menipu konsumen," kata Handi. Cara lainnya, membuat produk dengan harga premium, atau beraliansi dengan merek global.

Karakter ketujuh ,yaitu konsumen religius dan suka supranatural. Pasar bank syariah di Indonesia dalam tiga tahun terakhir terus naik signifikan. Pada dasarnya bangsa Indonesia itu manusia yang baik dan tidak suka mengolok-olok sehingga pasar ini tumbuh.

Strategi untuk konsumen ini adalah bisa bergabung dengan asosiasi keagamaan, atau memberikan label religi seperti mendaftarkan kehalalan produk. Cara terakhir, meluncurkan produk baru untuk segmen ini, karena potensi pasar religi ke depannya akan terus berkembang.

Karakter kedelapan, adalah pamer dan gengsi, ini berkaitan dengan karakter konsumen yang banyak menyukai produk asing. Kondisi ini didorong oleh masih adanya budaya feodal dan apresiasi berlebihan di tengah masyarakat.

Strateginya adalah, ciptakan produk dengan edisi terbatas, atau produk eksklusif. Bisa juga dengan memberikan layanan personal secara khusus.

Karakter kesembilan, adalah kekuatan subkultur atau budaya. Di beberapa daerah pengaruh budaya lokal masih kuat. Cara pemasaran untuk konsumen seperti ini dengan memberikan sentuhan kedaerahan, baik dalam promo produk maupun layanan. Untuk distribusi, bisa juga menggandeng distributor lokal yang lebih memahami karakter daerah setempat.

Karakter ke-10 yaitu rendahnya kesadaran terhadap lingkungan. Strateginya, posisikan konsep ramah lingkungan hanya pada level perusahaan bukan lebel produk di tingkat konsumen. Terapkan produk ramah lingkungan untuk keperluan ekspor dan pasar luar negeri saja.

Namun, karakter ini dalam beberapa tahun ke depan akan berubah seiring dengan maraknya kampanye kesadaran lingkungan dan pemanasan global sehingga harus diantisipasi.

Handi mengatakan beberapa karakter diperkirakan akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan sehingga bisa digunakan perencanaan dengan baik. Karakter yang terus menguat adalah suka berkumpul, suka buatan luar negeri, dan suka religi, serta suka pamer dan gengsi.

Karakter yang melemah seiring dengan perkembangan zaman adalah, memori jangka pendek, tidak memiliki perencanaan, gaptek, kedaerahan dan kesadaran lingkungan. (redaksi@bisnis.co.id)

A. Dadan Muhanda
Kontributor Bisnis Indonesia

09 Mei 2008

Mesin Pencuci Piring (dishwasher)

Bagi para wanita, terkadang repot juga untuk mencuci segala perlengkapan setelah makan dan memasak. Umumnya, mereka akan menyuruh pembantu rumah tangga untuk mencucinya. Namun bagi mereka yang tidak memiliki pembantu rumah tangga akan lebih praktis jika menggunakan mesin pencuci piring. Mesin ini akan memudahkan pekerjaan mencuci. Sebab, hanya dengan memasukkan peralatan yang akan dicuci, diberi sabun, dan biarkan alat tersebut bekerja, maka sejenak kemudian peralatan makan sudah kinclong.

Mesin yang bermanfaat bagi para ibu ini rupanya berawal dari hobi berpesta seorang perempuan kaya bernama Josephine Cochrane. Ia sangat gemar mengadakan pesta makan malam di rumahnya. Setelah pesta selesai, ia akan menyuruh para pelayannya untuk mencuci piring dan gelas yang sudah kotor.

Namun, melihat tumpukan cucian piring bekas pesta, membuat dirinya berpikir adakah alat praktis yang membuat mencuci jadi lebih cepat. Maka, ia pun bertekad, jika tak ada seorang pun yang bisa membuat alat itu, dirinyalah yang akan menciptakannya.

Berangkat dari tekad tersebut, Josephine mencoba membuktikan ucapannya. Ia kemudian membuat semacam kotak untuk menempatkan perangkat yang akan dicuci. Pertama, ia mengukur banyaknya perabotan yang akan dicuci. Kemudian ia membangun bagian-bagian ruangan dengan bahan kawat yang didisain untuk memuat piring, gelas, atau cawan. Bagian-bagian itu ditempatkan pada sebuah roda yang melintang pada ketel uap yang terbuat dari tembaga. Sebuah motor akan menggerakan roda ketika air sabun yang panas berada di dalamnya. Dengan mekanisme berputar, maka piring, gelas, atau cawan tersebut akan tercuci bersih.

Teman-teman Josephine Cochrane sangat kagum dengan mesin pencuci piring temuannya dan mereka pun menyebutnya dengan "Cochrane Diswasher". Karena teman-temannya sering memperbincangkan mesin temuan Cochrane, restoran-restoran dan hotel-hotel di Illinois memesan mesin tersebut padanya. Tidak lama kemudian, ia mematenkan dan memproduksi temuannya. Josephine menunjukkan penemuannya pada World's Columbian Exposition di Chicago dan mendapatkan penghargaan tertinggi.

Josephine berhasil menemukan mesin pencuci piring karena tekadnya untuk membuat alat pencuci piring yang lebih cepat dan lebih praktis. Terbukti, sebuah tekad yang bulat dapat menciptakan sebuah temuan baru yang bermanfaat bagi orang banyak.

Source: http://www.andriewongso.com

28 April 2008

BOS (Blue Ocean Strategy)


Blue Ocean Strategy.
Don't Compete with Rivals
Make Them Irrelevant

How Value Innovation can help you in the fierce Market Competition.

Konsep dasar Blue Ocean Strategy adalah Value Innovation. Bagaimana kita mengalihkan diri dari persaingan di Red Ocean yang sangat kompetitive dan berdarah, menuju pada Blue Ocean yang membuat kompetisi jadi tidak relevan lagi.

Value Innovation tidak selalu berupa inovasi teknologi, tetapi berupa inovasi untuk peningkatan keuntungan pelanggan yang disesuaikan dengan harga jual dan beaya.

Setiap strategi selalu mempunyai resiko yang harus diperhitungkan dengan seksama. Formulasi dan eksekusi BOS haruslah dilakukan dengan tepat dan cermat.

Download .ppt BOS disini

28 Maret 2008

Rhenald Kasali PhD: Siapa Konsumen Akhir? ( wave of love )


Rumah di ujung jalan itu terlihat asri. Caladium dan anthurium bunga tertata rapi di halaman depan rumah. Kesejukan menyambut saat menjejakkan kaki di rumah di Pondokgede, Bekasi, itu.

'Mari ikut saya,' ujar Rhenald Kasali PhD, sang pemilik rumah. Pakar pemasaran ternama itu mengajak ke halaman belakang. Tanaman ini ya yang sedang ngetren, ujarnya setengah bertanya seraya menunjuk anthurium wave of love setinggi 1,5 m. Semula gelombang cinta itu diletakkan di halaman depan, tetapi karena banyak orang mengincar, Rhenald memindahkannya ke belakang.

Gelombang cinta itu dipelihara sejak 5 tahun silam. Harganya ketika itu Rp75.000. Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia itu tak menyangka anthurium kini populer di tengah masyarakat. Harga Anthurium jenmanii menembus angka hingga ratusan juta rupiah. Di Karanganyar, Jawa Tengah, salah satu sentra, perputaran uang di satu pekebun mencapai Rp30-juta per hari.

Popularitas anthurium pun turut mendongkrak harga biji hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Harga tanaman induk dinilai dari jumlah tongkol yang menggendong biji. Pendek kata, banyak pebisnis anthurium mendadak bergelimang rupiah. Keuntungan menggiurkan mendorong orang-orang membenamkan modal.

Kepada Imam Wiguna, wartawan Trubus, Rhenald Kasali memaparkan pandangannya tentang bisnis anthurium dari kacamata pemasaran. Berikut petikan wawancara pada 17 November 2007.

Apa yang memicu fenomena anthurium seperti sekarang?

Sekarang ini kita memasuki era the dream society. Pada era seperti itu, masyarakat membeli sesuatu karena cerita di balik produk itu. Jadi, apa pun produknya kalau bisa dibikin cerita dan itu menjadi histeria massa, maka menjadi suatu yang populer.

Dalam pemasaran, ada yang disebut pop marketing. Fenomena pop marketing seperti kasus Inul Daratista. Popularitasnya mencuat setelah ditekan raja dangdut sehingga orang-orang bersimpati. Pamornya menjadi naik, tapi kemudian hilang. Fenomena itu cuma sesaat. Jadi bukan karena Inul nyanyinya bagus, tetapi karena cerita tentang dirinya yang menarik. Cerita bahwa Inul teraniaya, orang bersimpati, goyangnya ngebor, dan punya keistemewaan tertentu yang berbeda dengan yang lain. Kalau cerita itu bisa diperoleh, akan menjadi hit. Tapi umurnya ada yang panjang, ada juga yang pendek.

Adakah contoh yang berumur panjang?

Yang berumur panjang biasanya pariwisata, karena memang dipelihara. Misalnya Danau Loch Ree di Irlandia Utara, yang dipercaya dihuni monster. Padahal itu hanya gejala alam. Yang seperti itu umurnya panjang, selama bisa melestarikan gejala alam itu. Contoh lain, cerita tentang batu gantung di Danau Toba.

Bagaimana dengan anthurium?

Pada tanaman atau pun ikan hias, biasanya umurnya pendek. Yang agak panjang umurnya barangkali ikan arwana karena sulit membudidayakannya. Kalau mudah, juga akan cepat hilang.

Fenomena anthurium juga disebabkan cerita yang dibuat seputar tanaman hias itu. Dalam hal ini media punya peranan karena memotret kondisi masyarakat dan histeria orang-orang terhadap tanaman itu. Begitu juga pameran-pameran tanaman hias yang sekarang ini selalu ramai pengunjung.

Adakah komoditas lain yang mengalami fenomena seperti itu?

Masih ingat soal cacing? Itu juga kan cuma sebentar. Komoditas pertanian kalau kelebihan pasokan, harga jatuh. Apalagi kalau dia mudah dibudidayakan dan diperbanyak. Menurut pengalaman saya, anthurium itu mudah. Cuma perlu waktu saja. Saya sudah 5 tahun pelihara anthurium. Bertahun-tahun saya simpan di depan ngga ada yang melirik. Dulu saya beli cuma Rp75.000. Saya lihat memang bagus. Saya suka tanaman yang tidak dimiliki orang banyak.

Pada kasus cacing masalahnya adalah tidak ada end user. Saya takut anthurium juga begitu. Waktu itu saya beli bukan karena mahal, tetapi karena lagi murah. Harga Rp75.000 waktu itu masih cukup mahal. Dengan harga Rp20-juta-Rp200-juta, saya curiga tidak ada end user-nya.

Pada saat cacing sedang ramai dulu, saya pernah tanya seorang peternak, buat apa? Katanya bagus buat kosmetik. Ternyata ketika saya telusuri, pasar yang benar-benar untuk kosmetik itu tidak pernah ditemukan. Saya khawatir pada anthurium juga terjadi pasar imajiner. Orang beli tanaman hanya untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Jadi pasarnya pedagang kan? Bukan konsumen?

Produk yang pasaran, harganya pasti tidak akan tinggi. Contoh mobil Toyota. Begitu Toyota Kijang semua orang bisa beli, harganya sekitar Rp100- juta- Rp250-juta. Ia ngga bisa dijual dengan harga Rp500-juta. Harga setinggi itu sudah masuk kelas mewah seperti Crown, Lexus, BMW, Volvo, Audi, dan jumlahnya sedikit.

Masyarakat memandang anthurium dan tanaman hias lain sebagai peluang usaha. Apakah dengan fenomena seperti itu, tanaman hias merupakan lahan investasi yang baik?

Tanaman hias merupakan komoditas yang sudah menjadi kebutuhan. Popularitas aglaonema atau anthurium adalah perkembangan baik. Lonjakan yang di-push menjadi letupan-letupan menunjukkan bahwa tanaman hias menjadi industri yang dibutuhkan masyarakat. Nah, kalau untuk investasi, tergantung bidang usaha yang akan digeluti. Apakah mau jadi pembudidaya, pedagang kecil, pengumpul, atau membuka pelatihan? Orang harus memilih menjadi pelaku usaha yang mana. Kecuali Anda memiliki reputasi tertentu sehingga orang datang dengan sendirinya untuk membeli tanaman.

Menurut Anda, bidang usaha apa yang paling menguntungkan?

Dalam hal ini yang menguntungkan adalah menjadi pedagang. Sebab, ia hanya menentukan harga beli dan harga jual. Pedagang itu bisa mengendus pasar. Kalau terjun di budidaya, seringkali tidak menguasai informasi pasar. Ia hanya tahu hubungannya dengan pedagang. Petani kadang-kadang tidak tahu informasi pasar yang benar sehingga mudah tertipu. Begitu harga tinggi, baru membudidayakan. Padahal rumus pengusaha, beli di saat murah, jual ketika harga tinggi.

Terkadang petani bertindak sebaliknya, membeli di saat harga tinggi karena ada histeria massa. Begitu menjual harga sudah turun. Saya dengar dari rekan yang bermain tanaman, ada importir yang mendatangkan anthurium secara besar-besaran dari Thailand dan menjualnya dengan harga murah. Akibatnya, harga anthurium di tanahair jatuh. Pada kondisi seperti ini, siapa yang untung? Pedagang kan?

Kalau jadi petani, jangan hanya memasok ke toko-toko. Dalam bisnis di dream society, jangan cari uang, tapi bangunlah brand image (citra merek, red). Jika image tertanam, ia akan menjadi pencipta isu, momentum, dan sumber berita. Semua orang akan bertanya ke dia karena ia telah menjadi pakar. Berapa pun produk yang ia jual akan dibeli orang. Tapi kalau jadi follower, tidak bisa seperti itu.

Bagaimana mempertahankan bisnis yang berdasarkan tren?

Ini kan fenomena pop marketing. Kalau fenomena pemasaran yang biasa, suatu produk melalui siklus produk yang panjang. Pada pop marketing, dalam siklusnya terdapat gejolak-gejolak. Trennya sangat pendek, cuma 2-3 tahun. Suatu produk yang terlalu dipacu agar cepat melejit di pasaran, akan cepat hilang juga. Untuk mempertahankannya cukup sulit.

Yang bisa dilakukan adalah mengambil keuntungan sesaat. Selalu membeli pada saat harga akan naik. Begitu menjadi berita besar, lepas semua produk dan beralih ke komoditas lain. Ikuti saja tren. Jika ingin aman, main di produk yang abadi. Yang abadi itu harganya murah, konstan, tetapi yang beli ada terus.

Apakah harus selalu menghadirkan yang terbaru untuk melanggengkan tren?

Masalahnya satu orang pemain tidak dapat mendikte pasar. Harus ada konsensus dalam pasar. Konsensus dibentuk oleh berbagai hal. Misalnya namanya antik apa tidak. Contoh, kenapa wave of love berkembang? Karena kata wave of love itu menarik. Nama aslinya kan anthurium. Tetapi begitu diganti gelombang cinta karena daunnya bergelombang, lalu menjadi wave of love, orang menjadi wah…! Bisa menjadi cerita.

Jadi dengan memberikan nama yang khas, pemiliknya hanya sedikit, dan media mempublikasikannya, timbullah histeria massa. Lalu orang tertarik untuk berinvestasi. Terjadilah kejutan. Kalau ada komoditas yang seperti itu, bisa. Tapi lagi-lagi masuklah ketika harga masih rendah. Begitu mencapai puncak, segera lepas produk karena masa puncak tidak datang 2 kali. Begitulah pop marketing.

Bila dibandingkan dengan pasar modal, mana yang lebih berisiko?

Pasar modal itu berbeda. Para pelaku pasar modal dapat memantau pasar setiap saat. Pagi ia membeli saham, sore mungkin bisa dijual kembali. Pergerakan harga setiap waktu dapat dipantau. Mereka juga dilindungi oleh undang-undang, lembaga pengawas seperti Bapepam. Anthurium? Kondisinya sebaliknya. Oleh sebab itulah pasar anthurium tidak bisa dikendalikan. Aksi-aksi kecurangan tidak dibatasi undang-undang. Pada prinsipnya, setiap bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, juga berisiko besar. Begitu juga anthurium, jadi harus hati-hati.

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=134

24 Maret 2008

Belajar Dari Orang Yang Membuat Imaginasi


Mungkin J.K. Rowling tidak pernah berpikir sebelumnya jika hasil karya ‘Harry Potter-nya’ begitu fenomenal. Para pembaca dari segala lapisan umur, dari usia 9 - 99 tahun selalu menyerbu buku ini setiap kali terbit. Beredar di 200 negara, diterjemahkan dalam 61 bahasa dan kini telah terjual sebanyak 250 juta eksemplar. Yang tak kalah hebohnya, anak kecil kini tanpa sabar melahap buku sangat tebal yang biasanya hanya dibaca orang dewasa ini. Tak heran belum lama ini tersiar kabar bahwa beberapa anak di Amerika dan Inggris menderita sakit kepala karena memaksakan menghabiskan buku Harry Potter jilid 5 dalam semalam. Sakit kepala ini kemudian diberi nama ”Hogwarts Headache”.

Euforia Harry Potter memang melanda di mana-mana, edisi filmnya pun selalu ditunggu oleh para penggemarnya yang rela antri hanya untuk mendapatkan tiket. Tidak ada yang berpikir, bahkan Rowling sekalipun, jika buku ini akan digemari oleh anak-anak. Sebab awalnya ditujukan untuk orang dewasa. Lihat saja bukunya yang demikian tebal. Saking gandrungnya para anak-anak ini, mereka bahkan bisa menghafal para tokoh, binatang, permainan hingga mantra dalam dunia Harry Potter, termasuk kedua anak saya.

Pasar memang selalu menyimpan banyak misteri. Segmentasi yang kita lakukan sendiri, apalagi tidak secara mendalam bisa saja salah sasaran ke segmen lain yang tidak kita perhitungkan dalam pasar. Beruntung jika yang dituju adalah segmen yang menguntungkan. Dulu rokok Marlboro ditujukan kepada para wanita, namun kini dikenal sebagai rokok para pria yang macho. Yamaha Mio yang ditujukan untuk segmen para ibu rumah tangga justru diminati para pria yang ingin bertransportasi secara simpel.

Namun sedikit di antara kita yang berpikir apa yang terjadi di balik fenomena Harry Potter, sebab kebanyakan hanya melihat dampaknya. Padahal banyak hal yang dapat dipelajari dari situ, lebih dari sekedar mengantar anak-anak kita membeli buku atau mengantri film Harry Potter. Bagi para marketer maupun inovator, kekuatan imajinasi yang dimiliki oleh Rowling sangat luar biasa. Sebagai pengarang yang terkenal pandai menyembunyikan berbagai petunjuk, yang membuat pembaca penasaran sehingga rela merogoh koceknya menanti jilid demi jilid untuk sesuatu yang berharga, hal ini sangat ‘inspirational’. Dengan berbekal “Magic” Harry Potter yang terkenal ampuh itu, Rowling memiliki kekuatan marketing yang tersebar di berbagai mancanegara.

Sebenarnya apa yang dialami oleh Rowling sama seperti para penemu lainnya yaitu mengembangkan imajinasi. Inovasi nyaris tidak mungkin dilakukan jika para inovator tidak memiliki imajinasi. Persoalannya bagaimana menimbulkannya sehingga menghasilkan sebuah produk yang diapresiasi konsumen? Dari sini ada beberapa hal yang dapat dipelajari.
Pertama, jangan berhenti sebatas imajinasi liar, artinya imajinasi itu harus bisa diberi frame sehingga bisa memberi arah bagi penemuan produk-produk baru. Hal inilah yang membedakan antara kita sebagai orang awam dengan mereka yang berhasil menemukan produk-produk inovatif.

Kedua, Dream and Action. Imajinasi yang telah diberi frame akan memudahkan kita membuat wujud fisik. Tentu saja proses ini tidak mudah, diperlukan riset dan eksperimen yang panjang. Menyadari hal ini, banyak perusahaan-perusahaan besar menghabiskan sekian persen dari pendapatannya untuk membiayai R&D mereka. Banyak pula di antara penulis dan pengarang menghabiskan banyak waktu mereka untuk membuat karya yang terbaik meskipun kemudian hasil yang diinginkan tidak sesuai harapan, namun mereka tidak pernah berhenti.

Ketiga, tiada kata akhir untuk sebuah penemuan. Kekuatan sebuah penemuan adalah “Persistensi”. Saat Wright bersaudara berimajinasi bahwa tidak hanya burung bisa terbang, mereka ngotot melakukan eksperimen meskipun trial and error terjadi dan orang di sekelilingnya menganggap bahwa keduanya kurang waras. Namun Wright bersaudara tetap bereksperimen dan sejarah kemudian membuktikan bahwa dengan penemuannya, ternyata terbukti bahwa memang bukan cuma burung yang bisa terbang.

Beberapa saat yang lalu, konsumen kita juga sempat digemparkan oleh buku Supernova dan Jakarta Undercover yang meskipun tidak bisa dibandingkan dengan euforia Harry Potter namun kedua karya itu jelas tidak lepas dari imajinasi para penulisnya yang selalu berpikir menciptakan karya terbaik bagi pasar dan konsumennya. Para penulis ini berusaha memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen yang terus berubah, terutama imajinasi konsumen yang semakin berkembang. Hal ini disebabkan beberapa hal, yaitu kemajuan teknologi internet yang membuat konsumen kini sangat ’smart’ dalam membelanjakan uangnya. Melalui media ini konsumen dapat menjelajah ke alam maya tanpa batas, mencari dan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan imajiner mereka.

Demikian halnya teknologi ponsel yang keberadaannya kini bisa dinikmati di setiap segmen. Membuat informasi bisa diakses di mana-mana. Di negara maju teknologi ponsel dimanfaatkan oleh anak-anak dan remaja untuk mengirim dengan cepat pengalaman (experience) mereka kepada kawan-kawannya di manapun berada. Mereka yang piknik di Hawaii bersama orang tuanya dapat mengirim gambar ke temannya yang lagi naik gajah di Thailand. Semua ini membantu konsumen kita untuk bisa tahu dan memiliki imajinasi pada suatu tempat. Mereka akhirnya dapat bercerita meskipun secara fisik tidak pernah berkunjung ke tempat yang dimaksud.

Apa yang dialami oleh anak-anak kita yang begitu menggandrungi cerita Harry Potter sebenarnya karena mereka merasa diajak ke suatu tempat yang ada dalam imajinasi mereka, meskipun disadari peristiwa itu tidak akan terjadi di lingkungan nyata.
Akhirnya, memasarkan produk yang mengandalkan imajinasi jelas memerlukan pendekatan yang berbeda dengan produk lain seperti dalam Classical Marketing. Hanya pemasar yang jelilah yang dapat memanfaatkan peluang seperti ini dengan baik

12 Januari 2008

Coca-Cola dan Pepsi adalah segelintir perusahaan asing yang produk minumannya familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Saking hebatnya brand image yang dibangun sehingga seolah-olah produk mereka telah manjadi bagian dari hidup bangsa kita. Dengan leluasa mereka menjadikan indonesia dengan segala potensinya menjadi pasar empuk bagi produk yang dihasilkan. Tidak banyak produk indonesia yang begitu membanggakan dan mampu "menghajar" kekuatan kapitalis internasional itu. Salah satu produk membanggakan itu adalah Teh Botol Sosro.

Kesuksesesan sosro dalam merebut hati konsumen Indonesia sesungguhnya dilihat dari aspek pemasaran cukup unik. Sosro,dalam beberapa hal, telah mengabaikan hukum-hukum umum yang terdapat di ilmu pemasaran. Misalnya saja mengenai perlunya riset pasar sebelum meluncurkan produk. Konon kabarnya sebelum sosro hadir, ada sebuah perusahaan asing yang ingin mengeluarkan produk teh dalam botol sepert yang dilakukan sosro saat ini. Kala itu sang perusahaan menyewa jasa sebuah biro riset pemasaran untuk menguji kelayakan dan prospek produk tersebut di Indonesia. Setelah meneliti dan mengamati kebiasaan minum teh di masyarakat sang biro pun menyimpulkan bahwa produk ini tidak memiliki prospek bagus untuk dipasarkan di Indonesia. Biro itu beralasan bahwa budaya minum teh pada bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan disajikan hangat sehingga kehadiran teh dalam kemasan botol justru akan dianggap sebuah keanehan.

Sosrodjojo, pendiri perusahaan sosro, justru berpikir sebaliknya. Awalnya ide kemasan botol berasal dari pengalaman tes cicip (on place test) di pasar-pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Pada demonstrasi pertama teh langsung diseduh di tempat dan disajikan pada calon konsumen yang menyaksikan. Namun cara tersebut memakan waktu lama sehingga calon konsumen cenderung meninggalkan tempat. Kemudian pada uji berikutnya teh telah diseduh dari pabrik dan kemudian dimasukkan ke dalam tong-tong dan dibawa dengan mobil. Akan tetapu cara ini ternyata membuat banyak teh tumpah selama perjalanan karena saat itu struktur jalan belum sebaik sekarang. Akhirnya sosro mencoba untuk memasukkannya pada kemasan-kemasan botol limun agar mudah dibawa. Beranglkat dari itu merekaberpikir bahwa penggunaan kemasan botol adalah alternatif yang paling praktis dalam menghadirkan kenikmatan teh lansung ke konsumen.

Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki sosro . Sosro menyadari bahwa segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Untuk menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu belum lazim).

Tentu saja merubah kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan . Pada masa-masa awal peluncurannya, teh botol sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen. Mereka justru menganggap aneh produk ini karena kemasan botol dan penyajian dinginnya. Namun sosro tidak patah arang. Perusahaan ini terus mengedukasi pasarnya melalui iklan-iklan di berbagai media dan promosi-promosi on the spot. Perlahan tapi pasti produk teh botol sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan "Apapun makannya, minumnya teh botol sosro" di munculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.

Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang maik meningkat. Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada. Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali. Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volue yang lebih besar. Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.

Sekelumit kisah sukses sosro itu memberi pelajaran pada kita betapa pemasaran tidak hanya sekedar ilmu yang eksak. Faktor knowledge terkadang hanya memberi kontribusi kecil pada kesuksesan produk kita ketika dipasarkan. Faktor sisanya adalah seni dan intuisi yang dapat memandu para pemasar mencapai hasil yang di luar dugaan. Gabungan antara ketiganya lah yang dapat menghasilkan seorang pemasar yang jenius dan berpikir di luar kebiasaan yang Anda. Mungkin tidak banyak orang seperti itu di dunia ini, tapi mungkin juga dari jumlah yang sedikit itu ternyata Anda lah salah satunya.

Top 10 New Manager Mistakes- by F. John Reh


1) Think you know everything.

If you were just promoted to Production Manager, you may feel you know everything about production. Even if that were true, and it isn't, you sure don't know everything about the most important part of your new job, managing people. Listen to the people around you. Ask for their input when appropriate. Keep an open mind.

2) Show everyone who's in charge.

Trust me, everyone in your group knows who the new manager is. You don't have to make a big show about being "the boss". You do, however, have to demonstrate that, as the boss, you are making a positive difference.

3) Change everything.

Don't re-invent the wheel. Just because the way something is done isn't the way you would do it, it isn't necessarily wrong. Learn the difference between "different" and "wrong".

4) Be afraid to do anything.

Maybe you didn't ask for the promotion. Maybe you are not sure you can do the job. Don't let that keep you from doing the job the best you can. Upper management wouldn't have put you into the job if they didn't have confidence that you could handle it.

5) Don't take time to get to know your people.

Maybe you worked alongside these people for years. That doesn't mean you know them. Learn what makes them excited, how to motivate them, what they fear or worry about. Get to know them as individuals, because that's the only way you can effectively manage them. Your people are what will make or break you in your quest to be a good manager. Give them your attention and time.

6) Don't waste time with your boss.

Since he/she just promoted you, surely he/she understands how busy you are and won't need any of your time, right? Wrong. Your job, just like it was before you became a manager, is to help your boss. Make sure to budget time to meet with him/her to both give information and to receive guidance and training.

7) Don't worry about problems or problem employees.

You can no longer avoid problems or hope they will work themselves out. When something comes up, it is your job to figure out the best solution and get it done. That doesn't mean you can't ask for other's input or assistance, but it does mean you are the person who has to see it gets taken care of.

8) Don't let yourself be human.

Just because you are the boss doesn't mean you can be human, that you can't laugh, or show emotion, or make an occasional mistake.

9) Don't protect your people.

The people in your group will be under pressure from every direction. Other departments may want to blame you for failed interfaces. Your boss may want to dump all the unpleasant jobs on your department. HR may decide the job classifications in your area are overpaid. It's your job to stand up for your people and make sure they are treated as fairly as possible. They will return the loyalty.

10) Avoid responsibility for anything.

Like it or not, as the manager you are responsible for everything that happens in your group, whether you did it, or knew about it, or not. Anything anyone in your group does, or doesn't do, reflects on you. You have to build the communications so there are no surprises, but also be prepared to shoulder the responsibility. It goes hand-in-hand with the authority.